ゼッキョウシ の世界

ゼッキョウシ の世界
ルキ - ガゼット

Rabu, 28 April 2010

Fanfic 苦いミント -nigai minto-

Title: 苦いミント (Bitter Mint)

Author: kiyoshi

Fandom: the GazettE

Pairing: RukixReita *mochiron x3*

Genre: Fluff

Rating: dunno~~~ *baka xD*

Summary: Kau tidak apa-apa, Reita?? Mukamu pucat.

Disclaimer: Oioi minasan!!!! Oshirase~~~ REITUKI IS MINE!!! Hohohow ♥.♥ *dijedodin ke tembog rame-rame XDDD*

Ja, yominasai nyaaa~~~~ ^^v


++++

“Uhhhh, mual”. Reita menghentikan permainan bassnya lalu setelah menaruh bass kesayangannya di sofa ia pun bergegas pergi menuju pintu keluar studio.
“Mau kemana Rei??”. Sang leader Kai langsung menanyakan ke mana anak buahnya itu akan pergi setelah sukses menghentikan latihan mereka kali ini.
“Maaf, aku mau ke toilet sebentar”. jawab Reita singkat sambil membuka pintu di depannya.
“Cepat kembali! Latihan kita baru dimulai” Ruki tampak sedikit kesal dengan tingkah sang bassist yang tiba-tiba menghentikan latihan rutin mereka pada hari ini, padahal besok lusa mereka sudah harus rekaman single baru tapi permainan bass Reita masih saja acak-acakan.
“Iya”. Tanpa pikir panjang dengan tangan yang menahan mulutnya itu pun segera melesat berlari menuju toilet yang berada di pojok gedung studio mereka.
“Huweeekkkkkk…”. Ia lalu memasukkan kepalanya ke dalam wastafel toilet dan membuka air keran dari wastafel itu untuk mencuci pinggir wastafel dari cairan kotor yang keluar dari mulutnya itu.
“Hhhhhhh…. Seharusnya kemarin aku menginap saja di rumahnya”. Sebenarnya kemarin malam Reita kehujanan setelah mengantar Ruki pulang ke rumahnya dengan motor sport kesayangannya. Padahal Ruki sudah menyuruh Reita untuk menginap sehari di rumahnya, karena hujan malam itu yang turun deras tidak kunjung berhenti. Walau ia tahu betul pemuda kecil itu akan marah sekali jika ia menolak tawarannya, namun dengan mempertimbangkan banyak hal Reita memilih untuk pulang ke apaatonya. Lalu akibatnya dari tadi pagi Reita merasa air yang jatuh di sekujur tubuhnya tadi malam itu membuat badannya agak sedikit berat untuk digerakkan.
“Kau tidak apa-apa??” Uruha yang penasaran dengan kondisi sahabatnya itu ternyata pergi menyusulnya ke toilet.
“Iya… tidak apa-apa”. Ia mencoba mengatur nafasnya sambil berkumur-kumur dengan air keran di depannya. Rasa mual yang ia rasakan di perutnya pun belum juga hilang, ia pun sudah berkali-kali memuntahkan kembali isi perutnya ke dalam wastafel.
“Memangnya semalam kau habis minum banyak??”. Sambil menyerahkan teh oolong kalengan yang hangat dan handuk kecil di tangannya kepada Reita, Uruha menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu dengan pelan.
“Tidak, aku hanya kehujanan. Sankyuu!” Tanpa basa-basi Reita langsung meneguk teh kalengan itu tanpa tersisa.
“Hee… Pasti masuk angin. Kau belum minum obat ya??”.
“Tidak. Aku tidak suka obat! ==”. Katanya sambil mengelap kedua telapak tangannya dengan handuk yang diberikan Uruha.
“Haa dasar kau ini. Yasudah, ayo cepat kembali! Sepertinya chibi sudah bosan menunggumu terlalu lama”. Uru pun melangkahkan kakinya keluar dari toilet itu setelah mencuci kedua tangannya.
“Ya, baiklah”. Dengan sedikit mengatur keseimbangannya, Reita yang tertinggal di belakang segera menyusul Uruha kembali ke ruang latihan. Dan seperti yang diduga di ruang tersebut ia melihat sang vokalis kecil mereka sedang duduk merengut sambil menyeruput kopi panas di samping Aoi yang sedang melatih ritme gitarnya.
“Maaf, aku lama!”
“Kau tidak apa-apa, Reita?? Mukamu pucat”. Kai yang cepat khawatir itu pun langsung bertanya tentang kondisi salah satu membernya itu.
“Tidak apa-apa”. Reita tersenyum simpul, mencoba menenangkan kepanikan sang leader.
“Ayo kita mulai latihannya lagi!!!”. Dengan sikap dingin Ruki pun langsung menaruh cup kopi panasnya di meja, lalu pergi menuju ruang dalam studio. Para member lainnya pun mengikutinya langkah sang front man yang sedang tidak dalam kondisi mood yang bagus itu. Reita hanya bisa menghela nafas panjang, ia tahu Ruki masih kesal dengan penolakannya semalam. Lalu dengan langkah lunglai ia pun kembali mengambil bassnya dan masuk ke dalam studio latihan.

++++

“Yamerou! Yamerou!”
“Nee, kenapa Ruu??”. Aoi tampak heran dengan perkataan Ruki yang tiba-tiba menginginkan mereka berhenti latihan.
“Aku mau keluar sebentar!”. Ruki langsung bergegas mengambil jas mantelnya yang tergeletak rapih di sofa, lalu tanpa basa-basi ia pun pergi keluar dari studio.
“Hhhh... si boncel itu kenapa lagi sih??” Aoi hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil mematikan amplifier gitarnya.
“Ahh.. sekarang sudah masuk jam makan siang ya, yasudah kita akhiri saja latihan kali ini. Kita lanjutkan setelah jam tiga nanti. Otsukaresama Minna~~!”. Kai menyudahi latihan pada hari itu dan ia pun tampak ingin segera bergegas keluar dari ruang studio mereka.
“Yoo Rei, kau tidak mau makan??”. Aoi tampak heran dengan Reita yang masih saja belum mematikan ampli bassnya.
“Tidak, aku tidak lapar”. Reita masih belum menginginkan makanan apapun masuk ke mulutnya yang mulai terasa pahit.
“Hhhhh… jangan terlalu kau paksakan dirimu, mukamu sudah seperti mayat hidup, ayo kita makan dulu!”. Aoi menarik tangan Reita yang masih asyik memetik senar bassnya.
“Tidak… aku masih mau latihan sebentar lagi”. Reita tahu alasan Ruki menghentikan latihan mereka karena dirinya terus melakukan kesalahan.
“Hahaha… sudahlah Rei, jangan terlalu memaksakan dirimu”. Uru pun menepuk pundak sahabatnya itu.
“Hm… Iya, mukamu pucat, sebaiknya kau istirahat dulu sebentar!”. Kata Kai yang mencoba menasihati.
“Tapi, aku tidak lapar”
“Huft yasudah. Kalau kau lapar, jangan lupa susul kami ke bawah ya!”. Kata Aoi sambil mengacak-acak rambut pirang Rei.
“Ya, baiklah”
Lalu mereka bertiga pun langsung keluar menuju kantin gedung PSC yang berada di lantai satu. Reita pun kembali memetik senar basnya sendiri di studio itu. Reita sadar betul akan kesalahannya, Ruki sudah bekerja satu minggu di studio untuk merancang susunan arrangement dan lirik untuk lagu baru mereka selama beberapa bulan ini, sedangkan ia yang hanya bertugas menciptakan beberapa bait dan menghafalnya saja masih terus lupa dengan tugasnya, jadi wajar saja kalau Ruki menjadi semarah itu kepadanya. Terlebih lagi sampai sekarang pun Ruki yang merasa kesal karena penolakan Reita semalam membuatnya masih belum menegur si pirang itu seperti biasanya, jadi wajar saja Reita merasa sangat bersalah padanya saat ini.

++++

“Hehhh Ruu, sedang apa kau???”. Kai yang sedang pergi ke luar untuk membeli beberapa botol minuman itu langsung terkaget ketika melihat Ruki yang baru saja keluar dari konbini yang akan dikunjunginya itu.
“Ini!”. Ruki memperlihatkan isi dari kantung plastik yang dibawanya keluar dari konbini tersebut. Kai melihat berbagai jenis obat untuk flu, maag, bahkan diare yang baru saja dibeli Ruki.
“Heee untuk apa obat sebanyak ini?? Kau tampak baik-baik saja”
“Tentu saja bukan buatku”. Jawabnya singkat.
“Lalu??”
“Tentu saja untuk si bodoh itu. Aku curiga pasti karena terkena hujan setelah mengantarku semalam, dia jadi tidak konsentasi latihan”
“Ohhhh buat Reita. Jadi kau khawatir juga ya padanya??”. Kai terkekeh mendengar ekspresi muka Ruki yang tiba-tiba memerah saat ia menyebut nama Reita.
“Cihhh… Siapa yang khawatir dengannya. Aku cuma tidak mau orang bodoh itu terus menganggu latihan kita”
“Hahahaha… Kau lucu sekali Ruu”. Kai yang geli melihat sikap malu-malu Ruki langsung mencubit pipi chubby vokalisnya itu dengan kedua tangannya.
“Hehhh itaaaiiii, Kai!!!!, Cepat lepaskan tanganmu!!”. Ruki memang tak semanis penampilannya, omongannya selalu blak-blakan, sifatnya yang egois pun membuat ia mudah tersinggung mendengar celetukan orang lain.
“Uhhh… dasar kau benar-benar tidak manis”. Kai menghentikan tindakannya setelah Ruki terus saja menghardiknya dengan tatapan tajam.
“Lalu kau sendiri sedang apa??”
“Oh, aku mau berbelanja soft drink, sake, dan bir, Ryou-cin kebetulan tidak masuk hari ini, kasihan para staff di studio yang kehabisan minuman”
“Wahhh leader-sama kita memang baik~~ xD!!”. Ruki balik menyindir Kai dengan mengusap-usap rambut baru Kai.
“Heh… hehhh.. hentikan Takacchi! Tanganmu kotor, rambutku bisa bau! Cepat kembali sana!”
“Iya… iya berisik! Dasar bawel! xp”. Ruki langsung pergi menjauhi Kai yang tanpaknya ingin sekali menjambak rambut barunya yang baru ia potong kemarin. Kai yang melihat Ruki pergi menjauh dari hadapannya langsung terkikik melihat tingkah vokalis chibinya yang jaim itu.
“Haha… kalau Reita tahu, ia pasti akan senang sekali”. Sambil menahan tawanya ia lalu mendekati pintu masuk konbini seven eleven yang berada tepat dua langkah di depannya.

++++

“Uhhh… shit! Mual lagi!”. Tampaknya rasa mual setelah terkena air hujan semalam itu ternyata masih terasa di perut Reita. Lalu dengan sigap, ia pun segera menaruh bassnya lalu bergegas membuka pintu studionya.
CKLEK…
Namun sebelum Reita menarik kelop pintu, seseorang di luar studio sudah menarik kelop dan membuka pintu terlebih dulu. Reita pun lebih terkejut dengan sosok yang muncul tepat di depan pintu studionya.
“Lho Rei, mau kemana??”. Ruki yang baru saja tiba di studio mendadak terheran melihat Reita yang tampak terburu-buru keluar dari studio sambil memegangi mulutnya dengan sebelah tangannya.
“Tidak apa-apa. Minggir Ruu!!”
“Hei… hei… kau mau kemana??” Ruki yang penasaran dengan Reita, malah menarik T-Shirtnya dan menyebabkan Reita yang kehilangan keseimbangan itu langsung jatuh menimpa badan mungilnya. “Ouchhh… itai!!! Omae baka!!! Kenapa sih kau ini??”
Reita tidak menjawab pertanyaan Ruki, mukanya masih memerah karena menahan rasa mual itu. “Hu… huwekkkkkkkk”. Namun celakanya ia tidak bisa menahan rasa mualnya lagi, Reita pun dengan sukses langsung membuat kemeja putih Ruki berlumuran muntahannya seketika.
“EEHHHHHHH…. REITAAAAA??!!!”. Ruki tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya terkejut saat ini baju baru yang dibelinya kemarin langsung kotor dalam hitungan detik.
“Hah… ma… maafkan aku, Ruu!”. Reita yang masih merasa mual langsung lari secepat kilat menuju toilet. Ia pun langsung menuju wastafel terdekat untuk memuntahkan kembali rasa mualnya.
“Huwekkkkk…. Uhukuhukuhuk….”
“Hei, kau tidak apa-apa kan?”. Terdengar suara seseorang dibelakangnya yang juga menepuk pundaknya dengan perlahan.
“Lho, Ru? Iya tidak apa-apa. Uhukhukhuk…”
“Kau sakit??”. Ruki menepuk pundak Reita kembali, lalu memegang tengkuknya untuk meredakan rasa mualnya.
“Tidak.. aku tidak apa-apa. Mungkin hanya masuk angin”. Sambil meredakan rasa mualnya, Reita kembali membasuh mulutnya dengan air wastafel. “Oiya, maaf bajumu jadi kotor!”
“Hmm… tidak apa lah”. Ruki langsung mengucurkan air di wastafel sebelah Reita untuk membersihkan noda muntahan. Setelah kotoran di bajunya sudah cukup bersih, Ruki lalu membuka bajunya yang masih kotor itu.
“Lho, Kenapa kemejamu dibuka? Kau tidak kedinginan Ruu??”
“Tidak, aku tidak akan pernah merasa kedinginan”. Katanya sambil meletakkan baju kotornya di pinggiran wastafel.
“Ehh??!! Ma.. maksudmu??”. Reita terheran melihat Ruki yang saat ini hanya mengenakan singlet putihnya itu mendekatinya setelah mengambil beberapa helai tissue toilet di sampingnya.
“Kotor”. Dengan jari telunjuk yang terbungkus kertas tissue, Ruki mengelap sisa muntahan yang ada di tepi bibir Reita dengan seksama.
“Sa… San… kyuu!!!”. Hanya ucapan yang terbata-bata yang bisa keluar dari mulutnya. Kedua pipinya langsung memerah, jantung Reita pun serasa berhenti saat ini, jarak dirinya dengan Ruki hanya beberapa sentimeter saja, ia pun bisa merasakan nafas yang keluar dari pria di depannya itu.
“Kau sudah makan???”
“Belum. Lidahku terasa pahit, jadi….”. Jawabnya sambil memalingkan wajah. Reita tidak bisa melihat wajah Ruki yang saat ini benar-benar terlalu dekat, jantungnya benar-benar sedang berpacu dengan cepatnya.
“Hm… Sepertinya kau sakit karena terkena hujan semalam ya?. Huft, kan sudah kubilang untuk menginap di rumahku dulu. Lihat sekarang kau jadi sakit kan…”. Ruki menceramahi Reita sambil melipat kedua tangannya. Reita yang melihatnya hanya bisa mengangguk berkali-kali mendengar omelan kekasihnya tersebut, namun ia juga merasa lega karena jarak di antara mereka sudah mulai menjauh.
“Huhhh… padahal ini kemeja kesayanganku” katanya sambil melipat kemeja miliknya.
“Maaf!”
“Hei, bisa pinjam uangmu??”
“Hee… uangmu habis??”
“Jangan tertawa!! Uangku habis untuk membeli ini!”. Ruki memperlihatkan kantong plastik berlogo seven eleven yang digenggamnya sejak memasuki gedung PSC kepada Reita yang berada di depannya.
“Hee… banyak sekali… ini semua untukku???”. Reita terkaget ketika melihat isi dari kantong yang ia terima itu. “Kenapa kau beli sebanyak ini???”. Reita memang maklum dengan kebiasaan Ruki yang boros saat berbelanja, tapi kali ini dia benar-benar terkejut melihat berbagai macam obat yang dibeli Ruki untuknya.
“Aku tidak tau kau sakit apa. Jadi kubelikan saja semua”. Jawabnya santai, lalu mencuci tangannya di wastafel, lalu ia pun berbalik mendekati Reita yang masih sibuk dengan isi dalam kantong plastik yang diberikannya.
“Cepat minum kalau sudah makan!”. Ucapan Ruki memang sedikit kasar namun Reita tersenyum senang mendengar perhatian dari kekasihnya itu.
“Sa.. sankyuu ^^"
"Dou ita ^^"
"Tapi… aku kan tidak suka…”
“Apa?? Aku sudah capek-capek membelikannya”
“Tapi…….”
“Hmm… Rasanya sama saja dengan lidahmu yang terasa pahit itu kan”. Air muka Ruki pun berubah, dengan senyum yang mulai tersungging di bibirnya, ia memegang dagu Reita dan mengangkat wajah di depannya itu dengan perlahan. “Atau perlu aku bantu untuk meminumkannya??”
Reita pun tercegang mendengar pertanyaan Ruki barusan, namun ia lebih terkejut lagi saat makhluk kecil di depannya itu mulai mendekatkan muka ke depannya, dengan tangan yang masih memegang dagu Reita ia pun menekan bibir Reita dengan bibirnnya secara perlahan. Reita yang terkaget pun hanya bisa pasrah menerima kecupan tiba-tibanya. Ia pun lalu menikmatinya dengan membalas ciuman tersebut. Mereka sudah jarang melakukan kemesraan seperti ini. Meskipun sering bertemu di studio, akhir-akhir ini Ruki tidak pernah mendekatinya secara personal.
“Ruu…”. Reita memanggil nama orang didepannya itu saat Ruki mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya. Saat lidah mereka bersentuhan, muncul sensasi yang hebat di kepala Reita, ia sangat menikmati sentuhan yang liar namun manis dari lidah kecil yang memasuki mulutnya itu.
“Hmm… Lidahmu terasa pahit sekali”. Setelah merasa sedikit lelah, Ruki pun mulai melepaskan bibir Reita dari bibirnya. Lalu dengan sedikit keraguan ia rogok isi kantong celananya dan menemukan sebuah permen mint. “Ahh. Permennya hanya ada satu. Kau mau juga??”
“Ehh??”
“Jadi kau tidak mau??”
Reita yang melihat segurat senyum di bibir orang di depannya itu langsung mendekati pemuda kecil itu dengan perlahan. “Aku mau”. Jawabnya singkat dengan berbisik di telinga kanan Ruki.
“Kita makan bersama”. Ruki lalu menarik tangan Reita dan membawanya menuju ke dalam toilet tepat di depan mereka. Setelah mendekatkan tubuhnya ke tubuh Reita yang lebih tinggi di depannya, ia lalu mengecup leher pemuda itu dengan perlahan dan Reita pun langsung menutup pintu kecil di sampingnya sambil memutar kenop kuncinya.


++++

Toilet yang hening di pojokkan gedung itu memang jarang dipakai oleh para staff, karena band-band lain di perusahaan pun sedang melakukan tur di luar kota jadi keadaan di toilet ataupun gedung PSC di luar memang sangat sepi. Semenjak masuk ke toilet itu hanya terdengar desahan yang keluar dari dua orang didalamnya. Entah sudah berapa lama mereka tenggelam dari french kiss dan beberapa hal intim yang sudah lama tidak mereka lakukan di salah satu bilik di toilet itu.
“Aku rasa cukup. Kau sudah membalas hutangmu semalam”. Pemuda bertubuh kecil itu kemudian membuka kenop pintu di depannya dengan sedikit mengatur rambutnya yang acak-acakan. Pemuda tinggi di belakangnya lalu berusaha menutup zipper celananya sambil mengusap cairan yang tertinggal di mulutnya dengan sebelah tangannya.
“Jadi kau sudah tidak marah tentang yang semalam??”
“Tentu saja tidak. Nah, ayo kita makan, Rei!”. Dengan senyum yang merekah di bibirnya Ruki menarik tangan pemuda tinggi itu keluar dari dalam bilik toilet itu.
“Iya!”. Muka Reita yang kembali mendadak merah pun hanya bisa mengikuti langkah pemuda pendek itu dengan perlahan sampai menuju kantin di lantai satu. “Tapi Ruu… walaupun yang tadi itu permen mint, tapi lidahku terasa makin pahit, kenapa ya?”
“Kau tahu permen yang kita makan itu apa??”. Tanya Ruki kepada Reita yang sedang asyik menyantap menu makan siang special hari itu dengan lahap di depannya.
“Hmm… Katamu permen mint, tapi rasanya sangat pahit tidak seperti permen mint ==”
“Hahahaha… tentu saja pahit, aku sudah mengganti isinya”
“Oya??. Pantas saja terasa aneh”
“Aku menggantinya dengan permen obat masuk angin yang aku beli di konbini”. Jawab Ruki singkat sambil melahap potongan gyuuniku bakar di depannya.
“Heeeee…… apa??? Jadi yang tadi itu obat???”
“Ahahahaha… tapi sekarang kau tidak mual kan?. Tadi kau malah ingin terus menikmatinya”. Jawab Ruki sambil menyikut Reita dengan senyum sedikit mengejeknya.
“Ahhh… kau curang ==. Tapi, yaa aku sudah tidak mual lagi”
“Bagus kalau begitu! Lain kali kita lakukan lagi!”. Katanya sambil mengacak-acak rambut pirang si Bonkura.
“Hee…?!”
“Hei, ayo cepat habiskan makananmu! Latihan akan dimulai lima belas menit lagi”
“I... iya”
“Simpan semua obat dariku!! Jangan sampai kau buang lagi!!”
“Iya”
“Kau juga jangan terus melakukan kesalahan di latihan berikutnya!”
“Iya”
“Hm….”
“Ada lagi??”
“Koron kangen padamu. Aku rasa hari ini aku akan menginap di apaatomu sambil membawa koron”
“Ya…. silahkan!”. Jawab Reita sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Ahahaha… kau selalu menurut dengan semua perkataanku ya. Baguslah!”
“Maksudmu??”
“Jadi kalau aku bilang kalau ingin melamarmu besok, pasti kamu mau kan??”
“Heee…..”. Reita yang terkaget mendengar perkataan Ruki barusan menjatuhkan sumpit yang dipakainya tepat ke lantai samping kursinya. “Ka… Kau Serius???”
“Ahahahahaha… terserah kau menanggapinya sajalah”. Ruki lalu bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan Reita yang masih terkejut di meja tempat mereka makan. Melihat Ruki yang tertawa cekikikan pergi menjauh darinya itu membuat Reita menyadari kebodohannya menanggapi celotehan Ruki barusan. Ia pun kembali menyantap makanan di depannya setelah meminta sumpit baru dari pelayan kantin.
Setelah merasa cukup kenyang, Reita pun segera bergegas menuju ruang studio mereka. “Okurete sumimasen!”.
"Kenapa lama sekali?" Dan seperti yang ia duga, raut muka orang yang disayanginya itupun mendadak memburuk ketika melihat keterlambatannya menuju ruang latihan.
"Ma... maaf!"
"Ayo cepat ambil bassmu!" Reita pun langsung mengambil bassnya yang ia letakkan di sofa studio. Sepertinya Reita memang harus selalu bersabar menanggapi perubahan moodnya yang cukup drastis. Walau begitu ia sangat senang kalau mengingat hal yang mereka lakukan di toilet barusan. Dan berkat tindakan usil Ruki tadi, ia pun merasa rasa obat itu tidaklah terlalu buruk seperti yang dulu ia rasakan.


+O.W.A.R.I+

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar